zhenaiping

4 out of 5 dentists recommend this WordPress.com site


Tinggalkan komentar

Senyuman

Tersenyumlah satu sama lain.

Tersenyumlah kepada istri Anda.

Tersenyumlah kepada suami Anda.

Tersenyumlah kepada anak-anak Anda.

Tersenyumlah satu sama lain, tak soal siapa orangnya 

dan ini akan membantu Anda untuk berkembang 

dan rasa saling mengasihi yang semakin besar.

(Ibu Teresa)

Senyuman memperkaya mereka yang menerimanya tanpa membuat lebih miskin mereka yang memberikannya. Ini hanya memerlukan waktu sesaat, tetapi kenangannya perkasa sehingga dia bisa hidup tanpa senyuman.

Tidak ada seorangpun yang begitu miskin tetapi dia bisa diperkaya olehnya.

Senyuman menciptakan kebahagiaan di rumah, mendorong  itikad baik dalam bisnis dan merupakan pertanda persahabatan.

Senyuman mendatangkan istirahat kepada orang yang kelelahan, kegembiraan kepada orang yang patah semangat, sinar matahari kepada orang yang sedih, dan itu merupakan penawar alam yang terbaik untuk kesulitan.

Namun senyuman itu tidak bisa dipinjamkan atau dicuri, sebab itu adalah sesuatu yang tidak ada nilainya bagi siapa saja kecuali kalau diberikan.

Beberapa orang terlalu kelelahan untuk memberi anda senyuman. Berilah senyuman Anda, sebab tidak ada orang yang begitu membutuhkan senyuman seperti dia yang tidak punya lagi senyuman untuk diberikan.

Senyuman adalah Lengkungan Lembut

yang meluruskan banyak hal !


Tinggalkan komentar

Ayah, Aku Ingin Beli Waktumu!

Seorang Ayah kembali pulang telat dari tempat bekerja, merasa letih. Mendadak sudut matanya melihat anaknya yang berumur 5 tahun berdiri di depan pintu kamarnya. Takut-takut menatap sang ayah.

“Ayah, bolehkah aku menanyakan sesuatu? “, tanya anak, mengerjap-ngerjapkan matanya yang bulat bening.

“Ya, tentu saja. Apakah yang akan kau tanyakan? “, jawab ayahnya.

“Ayah, berapa uang yang ayah dapatkan dalam satu jam? ”

“Itu bukan urusanmu! Apa yang membuatmu bertanya seperti itu? ” ayahnya berkata dengan nada tinggi. Agak marah dia rupanya.

“Aku hanya ingin tahu. Berapakah yang ayah terima? ” pinta sang anak.

“Jika kamu benar-benar ingin tahu, ayah terima $ 20.00 per jam “.

“Oh, begitu, ” angguk sang anak. Sambil mendongak dia berkata, pelan.

“Ayah, bolehkah aku pinjam $ 10.00? ” sang anak meminta dengan memelas.

“Jika alasan kamu ingin tahu jumlah uang yang ayah terima hanya untuk dapat pinjam dan mebeli mainan yang tak bergunaatau sesuatu yang tidak masuk akal, maka kamu sekarang masuk kamar dan tidur. Apakah kamu tidak berpikir bahwa kamu egois? Ayah bekerja dengan susah payah setiap hari, dan tidak punya waktu untuk mainan anak-anak, ” sentak sang ayah.

Sang anak mengkerut. Dia tak berkata sepatah katapun. Hanya menunduk dan perlahan berbalik. Sang anak menurut masuk kamar dan menutup pintu. Tapi, diam-diam dia menahan agar air matanya tak mengalir jatuh. Sang ayah duduk dan semakin marah karena pertanyaan anaknya. Beraninya dia menanyakan pertanyaan hanya untuk mendapatkan uang.

Namun setelah lebih dari satu jam, sang ayah sudah tenang dan mulai berpikir bahwa dia agak keras terhadap anaknya. Mungkin anaknya membutuhkan sesuatu yang ingin dia beli dengan $ 10.00 tersebut, dan dia juga jarang meminta uang. Sang ayah pergi ke kamar anaknya dan pintunya dibuka.

“Sudah tidur, anakku? ” dia bertanya.

“Tidak ayah, saya masih terjaga, ” jawab anaknya, ragu-ragu.

“Ayah berpikir, mungkin ayah terlalu keras terhadap kamu barusan “, kata sang ayah.

“Hari ini hari yang berat dan ayah melampiaskannya kepada kamu. Ini $ 10.00 yang kamu pinta, ” ucap sang ayah, berusaha tersenyum.

Sang anak bangun dan menyalakan lampu.

“Oh, terima kasih ayah! ” sang anak berteriak kegirangan.

Kemudian, dia mengambil sesuatu dari bawah bantalnya dan ternyata isinya uang. Sang ayah melihat anaknya sudah mempunyai uang, kembali emosinya naik. Hendak marah. Sang anak menghitung dengan perlahan uangnya, kemudian menatap ayahnya.

“Kenapa kamu meminta uang lagi jika kamu sudah punya? ” gerutu ayahnya.

“Karena belum cukup, tapi sekarang aku sudah punya cukup uang “, balas sang anak.

“Ayah, saya punya $ 20.00 sekarang. Bolehkah aku beli satu jam dari waktumu? ”

Hikmah :

Terkadang kita terlena dengan kehidupan kita sendiri.

Kita bekerja sebenarnya buat keluarga tetapi kadang kita lupa

bahwa keluarga kita juga membutuhkan uang kita

(mis: waktu kita, perhatian kita, pengalaman kita, dll)

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.